RSS

JIWA PATRIOTISME

Sebagai salah satu bentuk rasa patriotisme dan nasionalisme di kalangan masyarakat,  dalam rangka menyambut peringatan yang ke-66  Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kita mendengar berita dari masyarakat di wilayah perbatasan antara RI dengan Malaysia yaitu di Kanduangan Desa Sekaduyan Taka Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur, tentang pembentangan Bendera Merah Putih, berukuran 1,5 meter x 3000 meter dengan berat 1,7 ton.

Peristiwa bersejarah ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 2011.

Berita ini ngintip dari : MimbarOpini.com

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on August 28, 2011 in Uncategorized

 

Tags: , , , , ,

MENGHORMATI BENDERA

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009, pada 9 Juli 2009, tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

Memiliki 9 Bab dan 74 pasal yang mengatur praktek penetapan dan tata cara penggunaan bendera, bahasa dan lambang negara, serta lagu kebangsaan serta ketentuan – ketentuan pidananya.

Tujuannya untuk :

  1. Memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  2. Menjaga kehormatan yang menunjukkan kedaulatan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  3. Menciptakan ketertiban, kepastian, dan standarisasi penggunaan bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan.

Dikaitkan dengan UU di atas, baru-baru ini kejadian di SMP Al-Irsyad di Kecamatan Tawangmangu dan SD Islam Sains dan Teknologi (SD-IST) Al-Albani di Kecamatan Matesih, Karanganyar yang tidak bersedia dan menolak melaksanakan upacara bendera yang biasa dilakukan di sekolah-sekolah setiap hari Senin.

Kepala SMP Al-Irsyad Tawangmangu, Sutardi, menyatakan menghormati benda mati, termasuk bendera negara, sama halnya dengan perbuatan syirik. Gerakan hormat, dianggap sama dengan gerakan i’tidal dalam shalat.

Sedangkan Kepala SD IST Al-Albani Matesih, Heru Ichwanudin, menyatakan penghormatan kepada bendera negara merupakan hak masing-masing individu dan bukan kewajiban.

Sebagai warga negara dan bangsa Indonesia, kita menyesalkan kejadian ini. Apalagi beliau berdua adalah seorang pendidik, bahkan kepala sekolah yang seharusnya memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya bagaimana membangkitkan rasa cinta tanah air dan bangsa sejak kecil, sebagai bekal kelak agar anak-anak tersebut menjadi generasi yang sanggup membangun negaranya menjadi besar, agar mereka tidak terlindas arus globalisasi.

“Kita wajib menghargai simbol-simbol bangsa, dalam pengertian menghormati, bukan menyembah,” kata Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Djalal, Selasa (7/6/2011).
Kita sepakat bahwa penghormatan terhadap bendera merah putih atau menyanyikan lagu kebangsaan bukan perbuatan syirik, dan sikap menghormati  berbeda dengan menyembah. Di negara-negara Islampun, bendera juga dihormati oleh warganya.

Saatnya para ulama turun tangan untuk membantu dan berperan menyelesaikan masalah ini. Seperti harapan Kementerian Pendidikan Nasional agar  ulama mampu memberikan penjelasan kepada umat mengenai aturan penghormatan kepada simbol negara, supaya tidak dipahami secara kaku dan sempit.

Kita tidak ingin sekolah atau aset bangsa ini ditutup, seperti yang kita dengar jika mereka tetap pada pendiriannya. Marilah kita duduk bersama membicarakan hal ini dengan kepala dingin, lakukan dialog dan pendekatan dalam rangka  pembinaan kepada masyarakat.

Untuk menghadapi kondisi seperti ini, dari dulu saya berangan-angan sebaiknya negara kita memberlakukan Wajib Militer saja seperti yang sudah dilaksanakan oleh negara tetangga Singapura. Semua anak laki-laki setelah menyelesaikan  Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) harus ikut latihan militer, apabila pada saat negara dalam keadaan darurat atau membutuhkan bantuan mereka siap berada di garis depan.

Pendidikan ini juga baik untuk melatih disiplin bangsa kita yang disadari atau tidak, semakin susah diatur.

Berita terakhir menyebutkan bahwa setelah dilakukan dialog, kedua sekolah akan melaksanakan kegiatan upacara bendera kembali. Syukurlah, mudah-mudahan para Kepala Sekolah tersebut manyadari kekilafannya.

Sumber : detiknews.com & anggara.org
Sumber Foto : newsflash
 
10 Comments

Posted by on June 8, 2011 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , ,

NII LAGI

Foto : FaktaPos

Foto : FaktaPos

Di Radio Elshinta sore ini (4/6), saya mendengar berita bahwa Forum Ulama Umat Islam (FUUI) dengan Ketua KH. Athian Ali Da’i, mengadakan pertemuan dengan pimpinan ormas Islam (Persis, Muhammadiyah, ICMI, DDI, PUI) dan Tim Pengacara Muslim (TPM) di Mesjid Al Fajr Bandung menelaah perkembangan kasus NII gadungan.
Menurut FUUI, jumlah mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung yang direkrut oleh jaringan NII gadungan lebih dari 257 orang, mayoritas perempuan dan masih aktif kuliah.
Generasi muda seperti mahasiswa menjadi target NII, saat ini sudah menyusup ke SMA bahkan sampai SMP di Bandung, tidak tertutup kemungkinan juga di daerah lain.
Keberadaan NII gadungan tersebut SESAT dan MERESAHKAN masyarakat karena sudah keluar dari ajaran atau aqidah Islam. Meskipun mereka sedang tiarap, tapi kita jangan sampai lengah, karena mereka akan tetap eksis.
FUUI mendukung dan membantu Pemerintah sepenuhnya, terutama Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Agama, Kementerian Sosial, serta Mabes Polri dalam menyelesaikan kasus ini.
Beberapa perguruan tinggi yang mahasiswanya sudah direkrut oleh NII gadungan ini, berdasarkan urutannya menurut data FUUI adalah sebagai berikut :

  1. Institut Teknologi Bandung (ITB)
  2. Universitas Padjadjaran (UNDPAD) Bandung
  3. Sekolah Tinggi Teknologi Telkom (STT Telkom) Bandung

Bagi kita apapun namanya, apakah NII benar atau NII palsu, semuanya sama.
Artinya mereka tidak layak untuk hidup di Indonesia.
Apalagi menyangkut ajaran dan aqidah Islam.
No way…..
Mari kita bentengi keluarga (anak, isteri, adik, kakak, maupun saudara) dari bujuk rayu setan yang terkutuk ini.

 
2 Comments

Posted by on June 4, 2011 in IndonesiaKu

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

KEMANAKAH PANCASILA SETELAH REFORMASI ?

Enam puluh enam tahun yang lalu, yaitu pada 1 Juni 1945 dalam sidang Badan Peyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai dasar filosofi atau sebagai pandangan hidup bagi Indonesia Merdeka,” demikian pidato Presiden ke tiga RI BJ Habibie dalam peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung DPR, Senayan.

Pidato kenegaraan ini, tidak terlepas dari upaya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akhir-akhir ini gencar menyosialisasikan kembali empat pilar kebangsaan yang fundamental :

  • Pancasila
  • Undang-Undang Dasar 1945 (UUD’45)
  • Bhineka Tunggal Ika, dan
  • Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Sejak era reformasi (mulai 1998), yang diikuti gelombang demokratisasi di berbagai bidang, kemanakah sekarang Pancasila itu ?

Pancasila seolah-olah tenggelam dalam sejarah masa lalu yang tak lagi relevan dalam reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas dalam kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan.

Mengapa hal itu terjadi ?

Mengapa seolah kita melupakan Pancasila ?

Pancasila seolah “lenyap” dari kehidupan kita ?

Jawabnya adalah :

Pertama, situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah baik di tingkat domestik, regional maupun global.

Kedua, terjadinya eforia reformasi sebagai akibat dari traumatisnya masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila.

Dikatakan oleh Pak Habibie bahwa Pancasila tak terkait dengan sebuah era pemerintahan, apakah  Orde Lama, Orde Baru atau orde manapun. Pancasila seharusnya terus menerus diaktualisasikan dan menjadi jati diri bangsa yang mengilhami perilaku kebangsaan dan kenegaraan.

Tanpa aktualisasi nilai-nilai dasar negara, kita akan kehilangan arah perjalanan bangsa dalam memasuki era globalisasi di berbagai bidang yang kian kompleks dan rumit.

[Cuplikan pidato kenegaraan BJ. Habibie hari ini, 1 Juni 2011, naskah lengkap ada disini]

Mungkin pembaca yang budiman tahu jawabannya “Kemanakah Pancasila setelah Reformasi ?”

Sumber : ktsp-rpp-silabus

 
3 Comments

Posted by on June 1, 2011 in IndonesiaKu

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

PANCASILA

Sumber : 3.bp.blogspot.com

Tulisan ini hanya sekedar mengingatkan kita, bahwa negara kita punya sebuah LAMBANG, yaitu BURUNG GARUDA yang gagah perkasa menjadi kebanggan kita,.

Dan negara kita punya sebuah IDEOLOGI yang menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia, yaitu PANCASILA.

Terdiri dari :

Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Sila Ketiga: Persatuan Indonesia.

Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Sumber gambar : 3.bp.blogspot.com

 
8 Comments

Posted by on May 24, 2011 in IndonesiaKu

 

Tags: , , , ,

SATU NUSA SATU BANGSA

Marilah kita renungkan sejenak lagu ini.

Untuk mengingatkan kembali sejauh mana rasa nasionalisme yang masih tersisa dalam diri kita masing-masing.

Bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-103.

Satu nusa
Satu bangsa
Satu bahasa kita

Tanah air
Pasti jaya
Untuk Selama-lamanya

Indonesia pusaka
Indonesia tercinta
Nusa bangsa
Dan Bahasa
Kita bela bersama

Diciptakan oleh : L. Manik

(Sumber : organisasi.org)

 
4 Comments

Posted by on May 20, 2011 in IndonesiaKu

 

Tags:

WASPADA PENIPUAN NII

Berikut ini adalah beberapa calon korban dan korban penipuan kelompok Negara Islam Indonesia (NII) :

  1. Rieke Diah Pitaloka, politisi PDI Perjuangan, hampir dibaiat oleh kelompok Negara Islam Indonesia (NII) sekitar tahun 1995 s/d 1996 ketika kuliah di Universitas Indonesia(UI). Awalnya kelompok tersebut mengajak diskusi di sekitar Buncit, Mampang, Jakarta Selatan, karena Rieke suka belajar ngaji dan ingin memperdalam ajaran Islam. Diskusi membicarakan seputar Islam, kondisi terkini, masalah bangsa, dan ujung-ujungnya berubah mengajak untuk membentuk negara baru.
  2. Lian, hilang sejak 7 April 2011, ditemukan oleh petugas Kepolisian Sektor (Polsek) Cisarua, Bogor, Jawa Barat,  berdasarkan informasi warga di Mesjid At-Taawun, Puncak, Bogor. Kondisi Lian pada saat ditemukan hilang ingatan, tidak punya identitas diri, tidak ingat keluarga, anak dan suami. Ketika meninggalkan rumah Lian berseragam Kementrian Perhubungan (Kemenhub), berubah penampilan dengan menggunakan pakaian gamis dan penutup muka (cadar).
  3. Mahatir Rizki (19), Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang telah pulang ke rumahnya di Bima, Nusa Tenggara Timur. Rizki diduga korban yang “dicuci” otaknya, didoktrinisasi kelompok NII  sebuah keyakinan tertentu.

Dari kasus-kasus yang dialami Rike dan Rizki, keduanya pada saat kejadian adalah mahasiswa, sedangkan Lian Calon Pegawai Negeri Sipil di Kemenhub. Profesi Mahasiswa (lebih disukai wanita) atau orang-orang muda yang ingin memperdalam agama Islam menjadi sasaran empuk kelompok NII untuk di ”cuci otak”-nya, didoktrinisasi, dan ditipu. Sehingga hilang ingatan dan lupa dengan diri sendiri, maupun keluarganya.

Bagi Mahasiswa beberapa Universitas atau kampus-kampus terkemuka yang menjadi incaran kelompok NII untuk menjadi kader mudanya yang cerdas, seperti UI Depok Jawa Barat, Universitas Muhammadiyah Malang dll agar selalu waspada.

Begitu juga kepada masyarakat yang tinggal di sekitar daerah Mampang, Jakarta Selatan, harus lebih hati-hati dan membentengi diri agar tidak terseret dengan bujukan-bujukan kelompok NII.

Diharapkan Pemerintah dan semua lapisan masyarakat merasa bertanggung jawab, bahu membahu bergerak secara aktif untuk mendeteksi, mengingatkan keluarga masing-masing, tetangga, dan teman akan bahaya kelompok ini, karena ancaman terjadi di tengah masyarakat.

Langkah Polda Metro Jaya melakukan pemetaan dan pemantauan terhadap titik-titik yang menjadi basis NII di wilayah Jakarta, Tangerang dan Bekasi, diharapkan juga dapat berjalan dengan baik.

Di sisi lain Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum DPP Muslimat Nadhatul Ulama (NU), di Palembang, Sabtu (30/4/2011), mengingatkan bahwa satu hal yang harus dipahami masyarakat, yakni pentingnya MENJAGA NEGARA, dan yang lebih penting adalah bahwa kita orang Indonesia yang beragama Islam bukan orang Islam yang hidup di Indonesia.

Khofifah menambahkan bahwa ASAS MEMBELA KEDAULATAN NEGARA ADALAH BAGIAN DARI IMAN.

Adam & Fikri, diduga pelaku "cuci otak" 15 Mhs. UMM & Unibraw Malang, Jatim (Sumber foto :Kompas)

Adam & Fikri, diduga pelaku "cuci otak" 15 Mhs. UMM & Unibraw Malang, Jatim (Sumber foto : Kompas)

Sumber berita :

AntaraNews,  Kompas, Tribun, Vivanews, dan Okezone

 
14 Comments

Posted by on May 2, 2011 in IndonesiaKu

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,